Kenapa saya harus memahami konsep fisika?

Kenapa saya* harus memahami konsep fisika?

saya dibaca siswa

Satu pertanyaan yang mungkin sederhana tapi terus membawa saya berputar dalam obat nyamuk bakar yang berasap dan berbau. Belum ketemu juga jawaban memuaskanya.

Pertanyaan yang dalam proses saya mengerjakan skripsi *yang bahkan masih proposal skripsi* menjadi hambatan.

Sebagai seorang perfeksionis, tak tega rasanya saya memberi jawaban yang mengacu pada nilai.

Apa berarti masalah pembelajaran fisika saat ini bukanlah kurangnya pemahaman konsep fisika melainkan tidak mampunya siswa mencapai nilai minimun yang telah ditetapkan?


Masalah yang saya angkat dalam proposal ini adalah cita-cita saya tentang menjadi pembelajar. Seseorang yang terus belajar, memahami, mengembangkan diri. sehingga saya mengangkat dua pokok utama pemahaman konsep dan kemampuan berfikir kreatif yang mengantarkan saya pada penemuan metode “drama kreatif”. Berbasiskan Inquiry metode ini menjadi lebih realistis untuk diterapkan dalam pembelajaran fisika.

Jadi, kenapa harus  metode ini aganya mulai terjawab.

Belum lagi, dampak yang saya ingin ketahui selain pada pemahaman konsep juga pada sikap siswa terhadap sains. Bukan sikap ilmiah yang banyak dipeklajari di sekolah dalam bab 1 kelas awal baik untuk mata pelajaran fisika, kimia, maupun biologi. Melainkan sikap yang berdasar pada 3 domain aspek seseorang. Bagaimana perasaanya saat dan setelah mempelajari fisika yang dirumuskan dalam 28 pertanyaan oleh Zang dan Campbell.

Bukankah, metode drama kreatif berbasis inkuiri jadi terdengar sangat menjanjikan demi mendapat hasil baik pada penelitian saya nantinya?


Banyak (lebih dari 2) skripsi atau penelitian yang saya temukan meneliti pemahaman konsep pada siswa yang mengacu pada definisi menurut Sanjaya (2009) “Pemahaman konsep adalah kemampuan  siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pembelajaran, tetapi mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan interpretasi data dan mempu mengaplikasikan konsep yang dimiliki sesuai dengan tingkat kognitif yang dimilikinya.” Yang kemudian mendorong penelitinya pada 6 tingkat kognitif menurut Bloom & Andrew dalam revisianya (c1-c6).  Pemahaman konsep siswa ini kemudian diterjemahkan oleh guru/ peneliti dalam bentuk angka. Dengan standar pemahaman tertentu (Kriteria ketuntasan minimun /kkm) maka siswa dapat diputuskan, sudah memahami? atau belum memahami atau bahkan mengalami miskonsepsi? (dengan bentuk tes berbeda)


 

Dengan mengesampingkan kemungkinan adanya miskonsepsi pada siswa, saya memilih membahas meningkatkan pemahaman konsep siswa, tapi dengan jujur saya ingin bertanya “Apa sebenernya yang ingin aku capai dengan memahami konsep?” “Apa yang harus siswa capai dengan kepemahaman konsep-konsep fisika?”

Dengan egonya seorang idealis, saya ingin mengesampingkan kenyataan bahwa, nilailah yang jadi tujuan utama. Dan kemampuan problem solving yang menjadi headline.

Tak terlalu menjawab bukan? Jadi, maukah kau membagi jawabanma?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s